Tutorial Bahasa Pemrograman

Bagi para mahasiswa yang mengambil jurusan berbau komputer atau IT, tentu akan memperlajari yang namanya bahasa pemrograman, baik itu High Level Language ataupun Low Level Language. Bedanya adalah kalau High Level Language lebih dapat dimengerti si pemakasi atau user, artinya bahasa yang digunakan masih bisa dicerna dan dipahami oleh manusia karena biasanya menggunakan bahasa universal atau bahasa Inggris. Contohnya adalah bahasa C dan Pascal. Sedangkan Low Level Language sudah tidak dapat dimengerti manusia lagi karena sudah benar-benar menjadi bahasa mesin dan hanya mesin yang dapat mengerti, seperti bahasa Assembly. Dan biasanya orang banyak yang menggunakan High Level Language daripada Low Level Language, karena lebih gampang dicerna, tapi tidak sedikit juga orang yang memahami Low Level Language dan mampu mengotak-atik bahasa biner, salut ya. :)

Nah, di sini saya punya beberapa tutorial menggunakan bahasa Pascal(karena saya juga sedang mempelajarinya). Ya lumayanlah untuk tambahan referensi buat kalian yang membutuhkan. Bagi yang ingin mendownload silahkan download di sini. Untuk yang Low Level Language atau kita ambil contoh bahasa Assembly, Anda bisa melihat tutorialnya di sini. Atau bisa mendownload di sini.

Salam.

Cara Kerja Barcode Reader

Ketika kita melihat dan membayangkan betapa panjangnya antrian di depan kasir pada sebuah pusat perbelanjaan, atau betapa sibuknya staf EDP memasukkan data, seandainya pusat perbelanjaan tersebut tidak menggunakan bar code. Sederetan angka dan garis-garis itu telah membantu penghematan waktu dan tenaga yang biasa.
Jika Anda cermati, hampir setiap benda yang diproduksi secara massal melengkapi kemasannya dengan bar code. Ada beberapa tipe bar code yang dikenal luas saat ini, antara lain UPC code, EAN code, CPC binary, Pharmacode, dan lain-lain. Namun, kali ini hanya membahas UPC Universal Product Code) yang digunakan sebagai standar bar code untuk etail hampir di seluruh dunia. Apa Itu Bar Code UPC? Bar code UPC mulanya dicipakan untuk membantu toko-toko grosir mempercepat proses pengece-kan, dan pelacakan inventaris mereka.
Kesuksesan bar code UPC membuatnya lebih banyak diadopsi untuk ke pentingan pendataan produk-produk retail atau konsumer. Bar code UPC pertama kali digunakan di AS pada tahun 1970-an. Produk pertama yang menggunakan teknologi ini adalah kemasan kotak permen karet. Walaupun dikembangkan oleh komunitas pengguna, seperti hal nya pada pengembangan software open source, penggunaan bar code UPC dikendalikan Uniform Code Council (UCC). Pabrik yang ingin meng gunakan bar code UPC ha rus mendaftarkan perusahaannya ke pada UCC. Kemudian UCC akan mengeluarkan enam di git nomor identitas pabrik (manu facturer identification number), dan menyediakan petunjuk penggunaan nya. Anda dapat melihat keenam nomor tersebut pada setiap dua belas digit bar code UPC, seperti yang tertera dalam kemasan setiap produk konsumer yang menggunakannya. Misalnya pada kotak pembungkus speaker Genius yang ada di meja redaksi PC Mild, tertera nomor 0 91163 80282 2. Anda dapat melihat pada setiap barcode UPC terdiri dari dua bagian, yakni sederetan garis hitam di atas kertas putih, dan dua belas digit ang ka. Garis-garis hitam memanjanginilah yang disebut dengan bar. Nomor identitas pabrik Genius ada lah ke enam angka pertama dari kode UPC, yakni 091163. Lima digit berikutnya, 80282, adalah nomor barang (item number). Sama halnya dengan IP address, satu bar code UPC hanya digunakan untuk satu barang. Angka terakhir dari bar code UPC disebut dengan check digit. Angka tersebut digunakan untuk memasti-kan apa kah nomor yang di-scan benar atau tidak.
Perhatikan bagaimana angka terakhir tersebut diperoleh dari kesebelas angka sebelumnya:
1. Jumlahkan semua angka pada posisi ganjil (1, 3, 5, 7, 9, dan 11)
0 + 1 + 6 + 8 + 2 + 2 = 19
2. Kalikan dengan 3.
19 x 3 = 57
3. Jumlahkan semua angka pada posisi genap (2, 4, 6, 8, dan 10).
9 + 1 + 3 + 0 + 8 = 21
4. Jumlahkan dengan hasil perkalian pada langkah ke-2.
57 + 21 = 78
5. Hasil penjumlahan pada langkah ke-4 harus habis dibagi 10. Jika kurang, angka penambahnya agar habis dibagi 10, itulah yang menjadi check digit.
78 + 2 = 80
Check digit untuk bar code UPC di atas adalah 2.
Setiap kali scanner membaca bar code UPC, komputer secara otomatis akan melakukan perhitungan seperti di atas. Jika check digit hasil perhitungan scanner berbeda dengan yang tertera dibar code UPC, scanner mengetahui telah terjadi kesalahan, dan akan melakukan scan ulang.
Bagaimana dengan Harga? Seperti yang dijelaskan di atas, barcode UPC merupakan penomoran unik untuk konsumer, dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan harga. Ketika membaca bar code UPC, scanner mengirimkan data tersebut kekomputer POS (point of sale) milik toko yang menjual produk tersebut. Komputer POS mencari data kode UPC yang dikirimkan oleh scanner di database-nya, dan secara real time mengirimkan harga un tuk produk tersebut kembali ke komputer kasir. Pendekatan seperti ini memungkinkansetiap toko mengubah harga setiap harga produk sewaktu-waktu, tanpa harus mengubah bar code UPC.
Misalnya, toko mengadakan program diskon untuk produk-produk tertentu. Operator POS tinggal mengganti harga dari database tanpa harus dipusingkan dengan bar code UPC yang menempel di setiap kemasan barang. Pengubahan harga dapat dilakukan sewaktu-waktu baik secara manual ataupun otomatis. Misalnya, beberapa toko menjual produk ter-tentu dengan harga diskon di hari dan jam tertentu. Operator POS membuatkan program agar pada hari dan jam dimaksud, harga produk yang didiskon turun, dan kembali ke harga asalnya setelah hari dan jam yang dimaksud berakhir.
Jika Anda pernah membaca surat pembaca di koran-koran tentang penipuan bar code, sesungguhnya yang terjadi adalah perbedaan harga yang ada di database POS dengan yang tertera pada barang yang dibeli. Bar code UPC tidak pernah salah dalam hal ini, tetapi operator POS bisa jadi lengah dalam memasukkan harga barang ke dalam database. Jadi, jangan pernah menyalahkan bar code.
Kehadiran bar code UPC ini telah memudahkan setiap transaksi kita di kasir, juga memudahkan toko dalam mendata penjualan dan stok barangnya. Ini adalah salah satu bentuk kemudahan yang ditawarkan oleh Teknologi Informasi (TI) dalam dunia bisnis retail.
Informasi Lebih Lanjut :
• www.electronics.howstuffworks.com/upc.htm
• www.en.wikipedia.org/wiki/Bar_code


Sumber: http://irfantaufik.blog.upi.edu

Algoritma 1

ALGORITMA

Asal-usul Kata
Kata algoritma berasal dari nama Abu Ja’far Mohammed Ibm Mûsâ al-Khowârizmi, seorang ilmuwan Persia yang menulis buku berjudul Kitab al jabr w’al-muqabala (Rules of Restoration and Reduction) sekitar tahun 825.

Ada beberapa kata yang mirip algoritma seperti algorism dan algorithmus. Kata algorithm dipakai untuk proses perhitungan aritmatika dengan menggunakan angka Arab. Kata algorithmus muncul pada kamus matematika Vollständiges Mathetatisches Lexicon (Leipzig, 1747) menggunakan istilah ini untuk kombinasi dari empat jenis perhitungan matematika: penjumlahan, perkalian, pengurangan dan pembagian. Frasa dalam bahasa Latin algorithmus infinitesimalis pada saat itu digunakan untuk menyatakan cara berhitung dengan menggunakan bilangan kecil tak terbatas seperti yang dikemukakan Leibnitz.

Sampai dengan tahun 1950 istilah algorism selalu diasosiasikan dengan Euclid’s algorithm, yaitu suatu proses yang menjelaskan cara mencari bilangan pembagi terbesar (greatest common divisor) untuk dua buah bilangan.

Pada Merriam-Webster’s Collegiate Dictionary istilah algorithm diartikan sebagai prosedur langkah demi langkah untuk memecahkan masalah atau menyelesaikan suatu tugas khususnya dengan menggunakan bantuan computer. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan algoritma sebagai urutan logis pengambilan keputusan untuk pemecahan masalah.




Syarat Algoritma

Menurut Donald E. Knuth sebuah algoritma harus memenuhi persyaratan:
-Finiteness
  Algoritma harus berakhir setelah melakukan sejumlah proses instruksi
-Definiteness
 Setiap langkah algoritma harus didefenisikan dengan tepat dan tidak menimbulkan makna ganda.
-Input
 Setiap algoritma memerlukan data untuk diproses lebih lanjut. Namun beberapa jenis program memang sengaja dirancang untuk tidak pernah berakhir, misalnya sistem operasi.
-Output
 Setiap algoritma harus memberikan satu atau bebrapa hasil untuk dikeluarkan.
-Effectiveness
 Langkah-langkah algoritma harus dikerjakan dalam waktu yang wajar



bersambung..